Monday, January 10, 2011

CASUAL SEX: HAVE YOU EVER DONE THIS?


Pikiran saya lagi jernih untuk menuliskan satu lagi artikel mengenai tema yang cukup ekstrem: casual sex! Pernah terjebak dengan kondisi seperti ini? Ayo, jangan bohongi diri sendiri, semua orang pernah melakukan kesalahan, kalau salah satu kesalahannya berupa melakukan hubungan sex satu malam didasarkan pada chemistry yang dibangun tiba-tiba dan secara mengejutkan menyuruh orang di samping tempat tidur untuk langsung pergi begitu saja itu masih sah kok. Sebenarnya, casual sex sendiri tumbuh dari rasa penasaran seseorang karena terlalu jenuh dengan rutinitas yang mencekik. Bisa dilakukan oleh segala jenis gender dan dari berbagai usia. Wah, pantas saja abg sekarang banyak yang sudah tidak perawan, rasa penasarannya kelewat besar sih!

Well, casual sex sendiri punya istilah yang berbeda-beda. Kita tentu mengenal one-night stand, hook up, atau sex after lunch. Itu semua didasarkan pada pengalaman saja. Kalau saya lebih condong menggunakan istilah casual sex karena terkesan masih santun dan paling-paling sex yang dimaksud hanya sebatas ciuman, french kiss mungkin. Kalau one-night stand terkait dengan make love, berbagi cairan tubuh, hook up lebih seram lagi bisa berlangsung lebih dari sekali. Sedangkan sex after lunch selalu identik dengan toilet, blowjob, dan tissue. So, what did you done? Terserah mau jawab yang mana, tetapi yang paling bijaksana simpan saja dihati, kalau mau di sharing boleh sekali.

Akibat terparah dari casual sex bisa hamil atau sial-sialnya terkena HIV/AIDS. Makanya, sangat disarankan kalau mau melakukan gunakan kondom atau tidak dilakukan sama sekali. Sebab munculnya kegiatan ini berasal dari efek kesendirian yang penuh, partnernya sibuk dengan urusan bisnis, atau selalu tertarik dengan penampilan fisik seseorang dan ingin cepat-cepat mencicipinya. Wah, kamu pikir itu masakan etalase yang boleh dicicip-cicip tiap menit. Selain itu, casual sex tumbuh di lingkungan yang kurang harmonis, karena desakan mental muda atau terlewat muda yang menguap tajam serta dibarengi dengan stimulus otak jorok berkat film porno yang sering diputar berkali-kali. Sisanya, tinggal alam bawah sadar yang bermain. Kalau sampai terjebak sih urusan belakangan, yang penting senang dahulu deh.

Kalau pengalaman, saya tidak yakin itu akan saya kategorikan kemana. Pastinya, itu private. Do you wanna know? Better you done it first and come to me for a whole full story of it. Pengalaman yang senyata-nyatanya yang bisa membuat kita terbelalak betapa sedihnya casual sex itu. Kalau sampai terjebak suka beneran, bagaimana? Bagus sih, jadinya hanya dengan dia ke depannya, tetapi kalau ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan, mau dibawa kemana anak dalam kandungan atau virus yang sudah menempel?

Masih belum yakin dengan penjelasan ini, lebih baik tonton saja film berjudul ‘Casual Sex?’ yang rilis 1988 silam. Film bergenre komedi itu bercerita tentang dua orang perempuan yang saling bersahabat yang pergi berliburan untuk mencari lelaki yang tepat untuk hidup mereka. Apakah nantinya petualangan mereka hanyalah sebuah casual sex, itu tergantung kamu menyimak film tersebut secara utuh. So now, it’s time to find your desire, only have a casual sex, a real relationship, or still single till the perfect moment. All your thoughts are fine. Asal jangan jadi menyesal setelah memilih itu, lalu kabur, dan membuka lubang baru yang ternyata tetap sama. Then, be safe!

FYI- This article come suddenly, nothing to share anything

TELL ME SOME JOKES OR GIVE ME A SIMPLE SURPRISES


Masih tgl 10, I still got 21 days to go...c'mon January, surprises me”

Tweet salah satu teman saya yang untuk saat ini benar-benar mengena sekali. Mungkin bagi dia, itu ada hubungannya dengan pekerjaan, tapi buat saya itu berhubungan dengan cinta. Yah, cinta! Cliché, tacky, and sounds desperate. Yes, I’m desperate and it’s chronic, badly! Untuk perihal satu ini tidak pernah saya angkat ke permukaan karena saya dikelilingi oleh orang-orang yang tidak pernah mau membicarakan hal yang satu ini dan rata-rata mereka single. Single and happy because of it. Maaf jika artikel ini benar-benar kebalik 180 derajat dengan artikel sebelumnya yang mengangkat tema tentang ‘being single being positive’, tapi sejujur-jujurnya yang itu lahir karena profesionalitas dan yang ini lahir karena perasaan terdalam dan buntu mau dipaparkan dimana.

Bye the way, target punya pacar sendiri sebenarnya sudah ada sejak masih SMP. Namun, entah kenapa masalah ini selalu sukses lenyap dalam pikiran saya tergantikan oleh target-target lain yang lebih butuh pikiran lebih keras. Sekarang, saya benar-benar ingin punya satu. Cukup satu saja! Saya capek dengan casual relation hingga terjebak casual sex. Huh? Now, I’m looking like a jerk and so desperate, right? Well, it’s natural. Everyone needs sex, so do I. But, after that, I hate myself (again). Back to a real relationship, I don’t know where I belong now, I feel so clumsy, fragile, and of course lonely. Where’s my right one? My super-charming-one? Oh, God! Please give me a direction, I’m lost!

Mungkin beberapa teman saya juga merasakan hal yang sama, mereka kosong dihatinya, tetapi mampu menutupi dengan raga yang tegar. Mereka punya banyak pekerjaan luar yang seru, sedangkan saya, saya hanya bisa melakukan pekerjaan pasif yang ternyata membutuhkan cukup otak untuk menyelesaikannya. Tetapi dari hati yang paling dalam, saya benar-benar butuh istirahat. A huge break with a great one through night full of love and star. Saya kembali ingat, betapa teman-teman saya selalu bilang, “Semua indah pada waktunya” or “Semua ada waktunya” Tapi, kapan buat saya? Kapan waktu itu benar-benar hadir menyemarakan hidup saya. Jujur, saya hampa. Tapi, saya bingung harus bagaimana.

Sebenarnya, saya tahu sih kekurangan hidup saya apa, yaitu kurang bersyukur. Saya mengakui kok shalat saya jadi bolong-bolong sejak beberapa bulan silam. Memang butuh kekuasaan Tuhan ya. Tapi, kalau sudah berbicara tentang Tuhan, saya jadi bingung lagi. Padalah Tuhan juga sudah berjanji tidak akan memberi masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh hamba-Nya. Saya suka puzzle, saya suka teka-teki, tetapi ini begitu rumit. Seperti saya bilang tadi malam, “Sono al crocevia, sono perso.I don’t know where I must to be. Is it he, she, both, or none of them? Once again, I need a clue. And that be a simple clue.

Tampaknya ini jelas berhubungan dengan pendewasaan, berhubungan dengan bagaimana menjadi seorang lelaki sungguhan yang siap melindungi siapa pun. Tapi, proses menuju ke sana saya tidak bisa sendiri. Bagaimana kalau saya pingsan ditengah jalan, atau mati mungkin? Bagaimana kalau teka-teki itu semestinya diselesaikan berdua? Bagaimana kalau ternyata takdir saya adalah kawin dengan diri sendiri? Well, many questions don’t give me another great decision. It’s sick, badly!
Sulit sekali untuk menjelaskan apa yang saya rasakan, karena itu mungkin saya sering terlihat seperti orang ling-lung. Dasar timbangan, apa-apa mesti dihitung baiknya, buruknya, tapi terkadang saya suka salah, sering sekali malah. Kesalahan itu pula yang sering saya ulang-ulang-ulang-ulang, sehingga saya menggali lubang sendiri untuk bunuh diri. Tapi, kalau bunuh diri kesannya tidak seru. Ibarat sebuah film, itu dikategorikan sebagai film sampah dan siap menerima Razzie Award  2011. Buat apa coba, sudah susah-susah dibuat, menunggu sembilan bulan, terus mati tak berguna saja begitu. Paling-paling serunya hanya jadi bintang 10 menit dalam suatu liputan investigasi. Terkenal sih, tapi karena bunuh diri. Alasannya? Depresi! Hahaha.

Saya pun tidak tahu jawaban atau kejelasan dari apa yang saya tulis ini. Yang saya tahu, saya mesti menunggu karena sebenarnya tidak ada yang instan. Menunggu dengan penuh kesabaran tingkat dewa, menunggu tanpa ada rasa cemas, menunggu dengan santai ditemani suara-suara penyanyi-penyanyi yang saya dengarkan. Tidur dengan gelisah itu benar-benar 2011, 10 hari yang lalu, sekarang tinggal bagaimana menjalani ketertarikan yang sempurna di sisa 21 hari ini. Saya masih punya cukup waktu untuk sampai digaris finish dengan sentuhan yang mengesankan, yaitu punya pacar. Kriterianya simpel, asal dia bermobil fortuner, berdomisili tidak jauh dari tempat saya tinggal, dan terkadang siap jadi babu saya. Kelewatan? Tidak juga! Dia akan mendapatkan yang lebih dari yang dia bayangkan. Saya pegang janji saya!

Oke, selain itu, saya juga akan berdamai dengan hari sabtu dan minggu dan mesti saya isi kedua hari itu dengan senang-senang yang pas. Saya malas membenci, saya hanya ingin tersenyum, berbagi, dan menghiasi yang sudah ada dengan cerita-cerita saya yang kurang menarik. Loncat ke percintaan lagi, nazar saya bila punya pacar sebelum Januari berakhir adalah saya akan keliling bersepeda pada malam hari dari jam 2 hingga jam 5 pagi, seperti yang pernah saya utarakan (di dalam hati). Mudah-mudahan lah bertemu.

Overall, I only need relax, no more bad day, only me and the music. Apakah saya mampu mencapainya? Apakah saya dapat bertahan? Lihat saja tanggal mainnya. Cukup lega bercerita disini, walau tidak punya orang yang bisa dicakap-cakapi, saya tetap santai kok. Oh, iya berdasarkan film Les Chansons D’amour, cinta itu butuh pengorbanan, mau diinjak-injak, bersedia menjadi penguntit ulung yang tanpa malu mengikuti terus si yang dicintai. Kemudian, siap mendapat penolakan dengan sebelumnya telah terjebak casual marriage, lalu kembali berkorban untuk membuktikan kalau dialah yang terbaik. Kuncinya, cinta itu nyaman. Kalau tidak bagaimana bisa bertahan toh?

Terakhir, saya hanya ingin bilang kepada siapa pun, siapa pun yang membaca artikel ini, “whatever you think, think the opposite” –Paul Arden. Terserah akan memperlakukan saya seperti apa, tetapi perlu diingat, saya hanya butuh cinta (titik). Tentunya, cinta yang berujung pada hubungan pacaran ya! Sudah lah, mulai melantur lagi. Yuk, mulai beres-beres. Bersiap-siap menantang yang ditantang! “Merekalah kelas menengah yang tidak disuapi penguasa dan merekalah sendi demokrasi” –Goenawan Muhammad. Ambil ancang-ancang, keluarkan senjata, dan terkamlah setiap waktu. CARPEDIEM!

FYI- This article is a story, true or false? Based on your faith. 

SINGLE STILL BE POSITIVE FIGHTER


Entah di status facebook atau di timeline twitter, banyak banget kita sering lihat yang galau karena jadi jomblo. Itu enggak satu dua orang saja, tetapi banyak. Apakah saat ini lagi musim jomblo? Apa mungkin lagi males untuk buka hati? Tentunya, dalam hal perjomblo-an ini setiap orang punya jawabannya masing-masing. Langkah berikutnya, bagaimana menciptakan hal-hal positif dari kejombloan itu biar tidak selalu galau, bisa jadi manusia yang lebih berguna walaupun tidak ada yang secara personal memberikan dukungan penuh cinta itu. Well, just being single being positive and try to keep grateful whatever the condition, okay?

Jomblo vs Single
Ternyata, jomblo dan single itu dua kata yang punya kemiripan arti tetapi untuk sebagian orang punya maksud yang berbeda. Let’s start with single! Single itu lebih identik dengan sendiri, tidak ada pasangan, tetapi tetap bisa bertahan dengan kehidupan yang ada. Diibaratkan sebagai pertandingan badminton, pada kategori single player, biasanya seorang pemain badminton akan bisa bermain lebih lepas, tidak ada strategi yang perlu dibagi dua, fokus hanya pada lawan, dan punya stamina yang sangat baik. Jadi, bisa disimpulkan kalau single dalam kaitannya dengan hubungan percintaan adalah orang-orang seperti itu. Tiga kata untuk single: fokus, berstamina, dan tidak rapuh. Sedangkan jomblo, biasanya sih identik dengan seseorang yang sudah diambang melepas masa singlenya, tetapi terkadang cinta bertepuk sebelah tangan atau ternyata pasangan yang diharapkan akan menutup masa kejombloan tidak seperti yang diharapkan. Entah karena si jomblo yang terlalu selektif atau terlalu bingung dengan dirinya sendiri.

Sekarang, tinggal yang merasa sendiri tidak ada pasangan, mengkategorikan dirinya ke jomblo atau single. Namun, boleh dibilang menjadi single lebih banyak positifnya karena biasanya bisa memanfaatkan waktu sendirinya untuk hal-hal penting yang membutuhkan banyak pikiran sehingga tidak ada tempat diotaknya untuk memikirkan pacar-pacaran. Tambah penasaran dengan menjadi single? Better follow this advice to make single life more fabulous than ever!

The Advice for the Fighter Single, BE POSITIVE!
Teori tentang menjadi single yang baik disertakan dengan tips-tipsnya tampaknya sudah banyak diketahui, apalagi yang sudah mulai depresi jadi single. The point is be positive! Tidak akan berhasil saran-saran berikut ini kalau dari diri sendiri tidak dibarengi dengan pikiran positif dan mau maju.

1.             Dig every talent
Just list every possibility connected with everything you ever done or you wanna do in your life. When you in relationship, this list is never come up because you really focus on the relationship so don’t have time to make every time is only yours. Maybe, you can put 10 till 30 talent based on fluently thing, proficient, average, low, and only imagination. After that, just sort 3-5 you can really do as soon as possible!

2.             Follow your passion
So now, you have a list based on your talent. Next step, the execution! Make a schedule included the exact time, the place, how you start, and any other thing get through to the talent. See what happen!

3.             Make a lot of new friend
The talent is also about the place where you express it! The place where you meet a new friend who have the same passion, motivation, and thought. A lot of new friend bring you fresh air to see how complicated this life based on everyone perspective.

4.             Don’t be too selective
Yes, you have your own rules, your own principle which makes you so boring because you’re single.  Let’s make yourself free and throw away the attribute which identical with that. Be free as a human being, darling!

5.             Just smile and proud with yourself!
It is a simple thing. Yes, simple! No other explanation because it’s simple.

Face the Reality and the Valentine!
Sudah cukup puas dengan saran-saran tadi? Kalau belum, coba koreksi diri. Single itu mudah kok, asal mau dibawa senang, tidak dalam keadaan tertekan dan bisa memandang permasalahan dari banyak sisi. Sekarang tinggal tunjukkan ke teman-teman bagaimana menjadi single yang tangguh. Kalau biasanya terkenal sebagai anak yang selalu bergantung pada orang lain, buktikan saat ini, saat jadi single. Diri sendiri bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan orang lain dalam sekejap. Hadapi kenyataan sebagai single secara mantap. Dari alam bawah sadar, kita bisa menjadi seorang yang lebih berani mengambil risiko tanpa takut dibatas-batasi oleh pasangan.

Oke, kenyataan-kenyataan tangguh sebagai single bisa mulai  dibuktikan saat valentine. Hura-hura saja bersama teman-teman baru. Valentine hanya satu hari kok alias 24 jam. Tidak akan terasa menyakitkan kalau punya rencana yang baik untuk menghabiskan hari itu. Saat hari sudah berganti menjadi 15 februari, yakinlah kesulitan hidup akan lebih berat. The value is being single is hard, life no friend is harder, and don’t have family is the hardest. So, every decision you choose you have the reason to prove. If don’t though enough to be single, better find the perfect one sincerely. Okay?!

FYI- This article publish in AY-03 (January 27, 2011)

Tuesday, January 4, 2011

LIU XIAOBO: NEVER ENDING SHOUT FOR FREEDOM


10 Desember 2010 yang lalu, baru saja digelar Nobel Peace Prize Concert ke-109 di Oslo, Norwegia. Konser tersebut merupakan bagian entertainment dari serangkaian acara Nobel Peace Prize yang selalu diberikan kepada orang-orang di seluruh dunia yang dianggap berjasa atau telah melakukan suatu kegiatan perubahan yang lebih baik  secara konsisten pada negara tempat dia berada yang berhubungan dengan kemanusiaan dan kedamaian dunia. Pada pemberian Nobel kali ini, seorang asal Cina, Liu Xiaobo meraih penghargaan tersebut karena dinilai telah melakukan kegiatan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Kita tahu, Cina sebuah negara dengan angka populasi penduduk terbesar di dunia merupakan negara komunis akut yang masih menghalalkan hukuman mati menjadi salah satu hukuman terberat bagi sebuah kejahatan yang dirasa berat pula oleh pemerintahannya.

Liu Xiaobo, merupakan lulusan sastra Cina, Universitas Jilin dan kemudian meraih gelar Master of Arts pada tahun 1986 dari Beijing Normal University. Setahun berikutnya, dia memperoleh gelar doctor di bidang sastra Cina. Hasil disertasi doktoralnya yang diterbitkan menjadi buku berjudul Aesthetic and Human Freedom, menjadi perdebatan filsafat dan estetika yang komprehensif, sehingga membuat Liu mulai dikenal dunia dan menjadi dosen tamu disejumlah negara. Salah satunya adalah di Universitas Oslo (Norwegia). Dia memiliki istri bernama Liu Xia yang dinikahinya selama di kamp kerja paksa pada tahun 1996. Sebelumnya telah menikah dan bercerai di tahun 1989 untuk melindungi istri pertamanya dan anak laki-lakinya agar tidak ikut terkena dampak dari aksinya kepada pemerintahan.

Dalam setiap kehidupan, pasti akan ditemui sebuah titik balik, maka itu pun yang dirasakan Liu. Pada April 1989, dia ikut aksi demonstrasi mahasiswa di lapangan Tiananmen, sebuah protes yang ditujukan terhadap ketidakstabilan ekonomi dan korupsi politik yang kemudian merambat menjadi sebuah demonstrasi pro-demokrasi yang merupakan sesuatu yang belum lazim bagi sebuah negara komunis-otoriter seperti Cina. Lebih dari 3.000 orang meninggal sebagai akibat tindakan dari pasukan bersenjata. Mungkin kejadian tersebut agak mirip dengan demonstarsi mahasiswa di Indonesia pada Mei 1998 yang akhirnya berhasil menggulingkan orde baru Soeharto menjadi sebuah reformasi-demokrasi yang kelihatannya bergerak seperti becak.

Oke, kembali ke Liu dan aksinya di Lapangan Tiananmen. Sejak 2 Juni 1989, Liu beserta tiga temannya melakukan aksi mogok makan dan berseru kepada pemerintah yang juga mereka sampaikan bagi gerakan mahasiswa lainnya untuk meninggalkan ideologi komunis yang selama ini dipegang dan mengadopsi budaya politik baru yang terbuka bagi dialog dan kompromi. Liu dan tiga rekannya kemudian dikenal dengan sebutan “Empat Ksatria dari Lapangan Tiananmen.” Pada 4 Juni 1989 dini hari, tentara pembebasan rakyat membubarkan mahasiswa dengan tank dan panser serta peluru timah. Korban pun berjatuhan dan seperti yang sudah dijelaskan bahwa atas korban kekerasan militer Cina ini, lebih dari 3.000 orang meninggal.

Sejak saat itu, Liu masuk daftar hitam pemerintah Cina. Total, sudah empat kali Liu masuk penjara. Pertama kali adalah setelah peristiwa Tiananmen di tahun 1989. Di sanalah semangatnya untuk mengkritik pemerintah Cina semakin berkobar, terutama masalah hak asasi manusia yang rela dikorbankan pemerintah Cina demi perekonomian. Juni 1991, dia bebas dari penjara Tiananmen dan pada tahun yang sama kembali diadili karena tuduhan penyebarluasaan semangat anti-revolusi lewat tulisan-tulisannya. Namun, kali ini tidak terbukti melanggar undang-undang dan dia pun bebas. Mei 1995, dengan tuduhan terlibat gerakan demokrasi dan penegakan hak asasi manusia ia kembali masuk penjara. Tapi karena perilakunya yang baik dan kooperatif selama di penjara, Liu mendapat remisi dan hanya menjalani hukuman enam bulan dari yang seharusnya satu tahun. Kemudian, di bulan Oktober 1996, Liu kembali dituduh melanggar tata tertib publik dan dihukum menjalani pendidikan ulang di kamp kerja paksa selama tiga tahun. Pada Mei 1999, Liu bebas dari kamp pendidikan. Namun, seakan hukuman tidak pernah padam, walau sudah bebas sebagai gantinya sebuah gardu jaga dibangun di dekat tempat tinggalnya. Telepon dan hubungan internetnya pun disadap. Aktivitasnya diketahui. Hingga pada 2004, komputer, dokumen, dan surat-surat Liu disita.

Pada Januari 2005, ia kembali dikenai tahanan rumah selama dua minggu. Tidak jelas alasan penahanan ini, tetapi tampaknya ada kaitannya dengan kematian Zhao Ziyang. Mantan perdana menteri Cina yang bersimpati pada gerakan mahasiswa di Tiananmen 1989 dan akibatnya dia disingkirkan dari jabatannya dan menjadi tahanan rumah hingga 15 tahun masa hidupnya. Kemudian di tahun 2007, ketika Cina sedang sibuk-sibuknya berbenah diri menjadi Tuan Rumah Olimpiade 2008, penjagaan pada Liu Xiaobo mulai berkurang dan inilah kesempatan yang dia gunakan untuk menyusun Charter 08.  Charter 08 merupakan sebuah manifesto yang ditanda tangani oleh lebih dari 350 intelektual Cina dan aktivis hak asasi manusia. Charter tersebut dipublikasikan pada 10 Desember 2010 bertepatan dengan 60 tahun Universal Declaration of Human Rights. Nama dan gaya petisinya mengadopsi anti-Soviet Charter 77 yang dibuat oleh para aktivis-aktivis pro-demokrasi di Ceko. Sejak publik mengenal Charter 08 ini, lebih dari 10.000 orang, baik di dalam maupun di luar Cina telah menandatanganinya. Sebagian isi Charter 08 berupa upaya menjadikan kebebasan berbicara sebagai penjamin hak warga untuk mendapatkan informasi dan pengawasan politik. Akibatnya, Pada 25 Desember 2009, Liu divonis hukuman penjara selama 11 tahun atas tuduhan subversi atau tuduhan upaya pemberontakan oleh pemerintah Cina yang saat itu berada dibawah kekuasaan perdana menteri Wu Den-yih.

Penghargaan Nobel Perdamaian 2010 untuk aktivis Cina, Liu Xiaobo ini tentunya menuai protes keras dari pemerintah Cina. Salah satu komentarnya kepada panitia Penghargaan Nobel Perdamaian ini, menilai bahwa panitia menyimpang dari prinsip-prinsip Nobel Perdamaian, sebab Liu sendiri adalah seorang kriminal dan melakukan pelanggaran Undang-Undang. Walaupun begitu, panitia Nobel Perdamaian tetap menganugerahkan penghargaan tersebut karena Liu dinilai berdedikasi dan konsisten dalam memperjuangkan tanpa kekerasan penegakan hak asasi manusia di Cina. Penghargaan diberikan tanpa kehadiran Liu yang sedang dipenjara dengan masa tahanan selama 20 tahun maupun kehadiran anggota keluarga lainnya, yaitu istri dan kerabatnya karena mereka juga dikenai tahanan rumah.

Peristiwa yang terjadi pada peraih nobel ini mengingatkan saya akan tegasnya pemerintah Cina dalam memerangi banyak hal yang berhubungan dengan dunia luar yang ada kaitannya dengan hak asasi penduduknya. Saya pernah bertemu kawan asal Cina di suatu kesempatan pada sebuah konferensi Internasional yang menyatakan bahwa banyak situs-situs, terutama situs jejaring sosial yang di banned oleh pemerintah pusat karena dinilai provokatif dan tidak mendidik. Salah satunya adalah situs facebook. Ini mungkin cerita lama, tapi informasi tersebut menyadarkan saya bahwa betapa beruntungnya saya tinggal di sebuah negara demokratis yang masih menjujung tinggi nilai hak asasi manusia walau terkadang kacau-balau. Walau begitu, di beberapa sisi Cina juga memberikan kontribusi yang tepat bagi peradaban dunia. Namun, bila dilihat dari sisi kemanusiaan, memang negara tersebut belum memberikan cerminan yang baik. Pengaruhnya saja, terutama yang berkaitan dengan nobel perdamaian ini, membuat 17 negara lainnya dipastikan tidak hadir, diantaranya adalah Rusia, Kazakhstan, Kolombia, Tunisia, Arab Saudi, Pakistan, Serbia, Irak, Iran, Vietnam, Afghanistan, Venezuela, Mesir, Sudan, Kuba, Maroko, dan Aljazair.

Intinya adalah pengaruh dari yang kuat kadang menyesatkan, kadang pula benar. Untuk masalah ini, Liu Xiaobo setidaknya pantas diberi apreasiasi atas sikapnya membela nurani hak-hak manusia yang semakin terkekang di Cina. Cara-cara yang digunakan juga terbilang konsisten, yaitu lewat tulisan. Meskipun masih terasa “kasar” versi pemerintah Cina, namun setidaknya cara-cara itu lebih bijaksana ketimbang cara-cara konvensional model anarki. Kita lihat saja nanti perkembangannya. Liu Xiaobo merupakan satu dari sekian banyak aktivis lain di dunia yang nuraninya merasa terkekang dan di tahu bagaimana cara memeranginya. Apakah kita sudah menemukan cara kita masing-masing untuk bertindak yang lebih jauh dari sekarang? Apakah kita sudah sanggup membangun bangsa kita sendiri? Apakah mata hati kita sudah bisa melihat secara nyata mana baik mana jahat? Atau apakah kita sudah memulai perubahan kecil untuk diri kita sendiri? 

FYI- This article only for share, no provocative, it's pure about to talk in my opinion. 

Sunday, January 2, 2011

L’AUBERGE ESPAGNOLE: DIFFERENCE MAKES US LEARN


Pernah di status facebook, saya menuliskan, “being stalker sometimes fun, in a positive way.” Buat yang pernah mempertanyakan stalking, but positive itu seperti apa ini contohnya. Karena asyik ingin tahu, apa saja film favoritnya, saya segera mencek dan mengetahui film ini. Pertama kali tahu, saya kok agak familiar dengan judulnya. Seperti pernah dibahas entah dimana. Beberapa bulan kemudian, saya baru ada kesempatan mencari film ini dan mengunduhnya. Voila, ternyata ini adalah film asal perancis yang dirilis 17 Mei 2002. Sutradarnya bernama Cedric Klapisch dan ternyata pula telah membuat sequel dari film ini berjudul The Russian Dolls di tahun 2005. Untuk sekarang, saya akan membahas dulu film yang dalam bahasa Inggris berjudul, Pot Luck atau The Spanish Apartement.

Karakter utamanya ada pada seorang pria muda bergelar sarjana ekonomi asal Paris, Perancis bernama Xavier (diperankan oleh Romain Duris) yang bosan dengan kehidupannya yang tidak berkembang. Terjebak dalam rutinitas yang sama, pengangguran, dan masih tinggal bersama ibunya membuat Xavier berencana meninggalkan kehidupannya yang hitam-putih dengan mengikuti program pertukaran pelajar dari Erasmus. Langkah itulah yang dirasanya baik, tetapi di saat yang sama kehidupan percintaannya juga ditantang oleh Martine (Audrey Tautou) yang meragukan cinta tulus Xavier yang memilih pergi meninggalkannya.

Singkatnya, Xavier akhirnya sampai di Barcelona, Spanyol dengan sejuta harapan agar mendapat pengalaman yang memberinya banyak pelajaran baru. Awalnya dia tinggal disebuah keluarga pasangan suami-istri baru asal Perancis yang baru juga sampai dan akan tinggal lama di kota itu. Sampai akhirnya, dia berhasil menemukan tempat tinggal paling langka dan paling berkesan dalam hidupnya kemudian. Sebuah apartemen berukuran besar yang terdiri dari beberapa kamar, dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa asing Eropa lainnya. Ada Wendy (Kelly Reilly) asal Inggris yang takut gelap, Tobias (Barnaby Metschurat) si serius dari Jerman, Alessandro (Federico D’Anna) asal Italia, Lars (Christian Pagh) yang bisa bahasa Perancis dari Swedia, dan tentunya si sensitive Soledad (Cristina Brondo) dari Spanyol. Karena Xavier mendapat teman baru asal Perancis pula bernama Isabelle (Cecile de France) dari kelas ekonominya, maka ada tambahan satu orang lagi di sana. Komunikasi pun terjalin dalam tiga bahasa Perancis, Spanyol, dan Inggris. Melihat adegan mereka berbicara dalam tiga bahasa saja membuat saya merasa iri dengan kehangatan beda warna dalam satu apartemen.

Kekonyolan demi kekonyolan ditampilkan dengan cara yang alami, terutama saat Isabelle yang lesbian mengajari Xavier bercinta dengan wanita, istri dari keluarga Perancis itu. Ditambah kehadiran adik Wendy, bernama William (Kevin Bishop) yang sangat jayus, tetapi baik hati dan sangat sayang dengan kakaknya. Kehidupan di apartemen tersebut, rasa-rasanya mirip dengan kos-kosan di Indonesia yang misalnya saja dihuni oleh orang-orang beda suku yang tetap toleran dan menghormati.

Di awal cerita film ini agak membosankan. Entah karena ciri khas film Perancis seperti itu atau kemauan sutradara untuk membuat konsep monolog yang tanggung, saya kurang paham juga. Namun, pastinya, film ini menyadarkan saya dan memberi banyak pelajaran bahwa kemana pun pergi jati diri yang sesungguhnya dari diri sendiri adalah yang akan menolong kita bila berada dalam situasi sulit. Kadang walau kita berasal dari suku yang sama, memahami satu sama lain tidaklah segampang yang dipikirkan. Setiap orang punya cara pandangnya masing-masing atas suatu permasalahan, tidak berdasarkan suku, ras, atau kewarganegaraan. Film ini memberi gambaran penuh tentang bagaimana kita harus bersikap dengan orang-orang baru, sampai akhirnya kita akan menemukan jati diri kita yang sebenarnya atas pembelajaraan akan perbedaan.

There is a lot thing to sacrifice when we struggled with the future. Keep moving forward is the best way to achieve something. After we’ve already made peace with all stuff in our life, in sincere condition, we can find what we gonna do next. Seperti karakter utama di tokoh ini, yang passionnya akan sesuatu ternyata ada disekitarnya. Hah, Finally

FYI- This article is only a pleasure

Saturday, January 1, 2011

CROSSING OVER: I’M PROUD TO BE INDONESIAN


Salah satu jenis film yang saya sukai adalah yang memiliki unsur SARA di dalamnya. Mungkin hal itulah yang sering terlontar dalam jokes saya kepada beberapa teman. Tapi, sebenarnya tidak ada keinginan untuk jahat kok, hanya jokes bertema ini lebih seru saja. Well, back to film, I know this film in some month in 2009 and I know I have to watch this movie as soon as possible. Namun, karena beberapa hal “tidak penting”, film ini baru berhasil saya unduh dua minggu sebelum tahun baru 2011. 

Crossing Over, terdengar begitu jelas dari judulnya. Settingnya sendiri berlokasi di Los Angeles, disutradarai oleh Wayne Kramer, seorang imigran asal Afrika Selatan. Film ini adalah pembaharuan dari film pendeknya di tahun 1995. Dengan konsep cukup pelik seputar illegal immigrant, human rights, green card, dan tentunya the clash culture, film ini memberi gambaran yang sebenar-benarnya dari strict-nya birokrasi di USA, terutama masalah imigrasi.

Kira-kira ada enam cerita berbeda yang melebur menjadi satu kesatuan yang menarik. Seorang Agent ICE (US Immigration and Customs Enforcement) bernama Max Brogan diperankan oleh Harrison Ford yang menyelamatkan seorang anak lelaki asal Mexico ketika sang ibu dari anak itu harus dideportasi, kemudian ada musisi atheis asal Inggris, Gavin Kossef (Jim Sturgess) yang menyamar menjadi yahudi sebagai guru musik di sekolah yahudi. Selain itu ada pula aktris baru berkewarganegaraan Australia bernama Claire Shepard diperankan oleh Alice Eve, yang merelakan tubuhnya dipakai oleh pejabat imigrasi demi mendapatkan permanent residence. Ada pula kisah calon warga negara USA asal Korea yang salah satu anaknya terlibat pembunuhan serta ketidaksukaan keluarga Iran kepada anak perempuan mereka yang nakal. Namun, dari semua cerita dalam film tersebut, kisah seorang remaja perempuan bernama Taslima Jahangir yang diperankan oleh Summer Bishil (sebelumnya bermain apik di Towelhead) adalah yang paling menyedihkan.

Taslima dan keluarganya yang keturunan Bangladesh mesti berurusan dengan pihak imigrasi karena pada suatu kesempatan di sekolahnya, Taslima menyuarakan aspirasinya mengenai 9/11, Islam, dan Jihad. Sontak hal itu membuat seisi kelas ribut dan mencemooh pendapatnya. Malam harinya, tanpa tendeng aling-aling pihak imigrasi segera mendobrak paksa rumah Taslima dan menganggapnya sebagai mata-mata dari dunia Islam dan salah satu anggota teroris yang siap menyerang negara. Adegan paling memilukan adalah ketika Taslima dan ibunya mesti dideportasi ke negara asal, sehingga harus berpisah bertahun-tahun dengan adik-adik dan ayahnya. Seakan tidak ada rasa kasihani, pihak imigrasi USA hanya mengandalkan alibi sekunder yang masih dipertanyakan kebenarannya untuk memisahkan hubungan keluarga itu.


Adegan berkesan lainnya adalah saat Gavin Kossef yang atheis mesti berpura-pura sebagai seorang yahudi yang taat untuk mendapatkan green card dan agar dapat bekerja sebagai musisi di negara itu. Ketika diharuskan melafalkan doa, Gavin mesti berhadapan dengan seorang rabbi sungguhan untuk menyakinkan pihak imigrasi bahwa dirinya adalah seorang yahudi taat yang bekerja untuk agama itu dan untuk mempermudahnya mendapatkan green card

Secara keseluruhan, film berdurasi 113 menit ini menyuguhkan cerita kompleksitas imigrasi USA yang nyata. Walau tidak begitu booming dari segi penonton, tapi disini kita akan menyaksikan betapa orang-orang USA itu, khususnya pihak-pihak imigrasinya bekerja hanya mementingkan tugas tanpa hati nurani, melupakan jati diri mereka yang sesungguhnya, dan menari-nari di atas penderitaan orang lain di atas nama profesionalitas.

Saya pun jadi kembali berpikir ulang untuk pindah kewarganegaraan, dimana pun itu dan bagaimana pun negara itu dikatakan sebagai negara demokrasi. Karena menurut saya, negara demokrasi sesungguhnya ya Indonesia. Di sini media masih berbicara dan bisa membalikkan keadaan 180 derajat, memiliki kerukunan antar beragama dan suku yang berdampingan, walau terkadang masih saja saling serang dan bunuh karena masalah sepele. Ingat kan sama kejadian pembakaran gereja atau rusuh saling serang di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan antar suku? Pernah saya menonton salah satu program di tv yang menanyakan kepada para host-nya, apa sih kerukunan antar umat beragam? Belum ada yang bisa menjawab secara pasti. Semua masih abu-abu, apalagi masalah sensitif seputar agama, suku, bahkan imigrasi. Jelasnya, saya bangga menjadi warga negara Indonesia. Di negara ini gampang, sogok-menyogok itu lumrah. Bukan saya mengajarkan, tapi coba dibayangkan betapa sering kegiatan itu memudahkan kita dalam menjalankan aktivitas sehari-hari? Birokrasi ribet dan menyusahkan seperti yang sering dikeluhkan orang ternyata tidak ada apa-apanya dibanding di negara demokrasi lain di dunia.

The point is just be proud from where you are. No matter how black you are, what you’re doing to make connection with God, or as simple as how big your size, you’re the best in your own way. Make yourself independent as human being is the truly message.  

FYI- This article is only a pleasure

NEW YEAR'S EVE

(Scene 1)

"I hate those jerk, esp you! SCREW YOU!", maki saya di twitter tepat di jam 11.11 malam beberapa menit lagi menjelang tahun baru.

Tanpa pikir panjang saya kembali ke apartemen dari pesta laknat yang telah menghancurkan malam tahun ini. Saya pikir, ini akan jadi malam tahun baru terindah sepanjang hidup. Hanya berdua, kembang api, pegangan tangan, dan "hadiah" tahun baru yang pas. Semua sudah sempurna, sampai akhirnya bajingan-bajingan itu merusak detail-detail impian yang telah lama saya bangun.

Sekarang 30 menit menjelang tahun baru. Saya di kamar, sendiri, menatap langit-langit. Sendiri telah saya rasakan sejak lama. Saya ingat beberapa kali ulang tahun saya habiskan sendiri.

"Ck, coba saja dari kemarin dengar kata-kata Ris, pasti sekadar sudah tertawa lepas bersama kawan-kawan yang paling saya cintai di dunia", omel saya sok monolog. Ini mah cuma berharap keajaiban saja, mungkin lebih baik menonton pertunjukkan kembang api di balkon sambil menikmati bolognese sisa kemarin malam.


"Tok, tok, tok" saya kedatangan tamu 15 menit menjelang tahun baru. Siapa orang baik hati, tapi permisi dulu sebelum merampok. Huh, menganggu kesendirian saya, kalau mau rampok silakanlah, tidak usah berbaik-baik. Ambil semua yang dimau!

Dengan enggan, saya beranjak menuju pintu. Hampir 5 menit, orang tidak tahu diri itu terus merusuh, berisik. Saya lihat dulu dibalik kaca pembesar. Yang tertera malah sampul DVD berjudul Touch of Pink. Aneh!

"Tapi, judul itu kan..."

Saya beranikan diri membuka pintu. Tampak sosok itu, ceria, tidak kaku, kacamatanya, senyum tulusnya, mata tajamnya.

"What are you doing? You don't belong here, how's your single-mingle party? They will loose their passion and of course you. Please tell me short and sharp!"

"I read your status. And I know it'll be happen. So, I came here. Now, I really don't care about that ridiculous party. I know, you need me. This is your movie, I also bring you this. This is your night!"

"Oh, lili. So, this is not mine, this is our nite then."

Kembang api pun terang benderang menghiasi langit malam ini. Tahun berganti kesekian kalinya. Saya senang. Malam tahun baru impian benar-benar jadi nyata. Alone is only word, I know it!

Powered by Telkomsel BlackBerry®

VACATION WHILE PROTECTING


Ribut-ribut Indonesia-Malaysia seharusnya menjadikan kita makin aware untuk ikut serta menjaga keutuhan NKRI. Salah satunya adalah dengan datang dan liburan di pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara-negara asing, seperti Malaysia, Filipina, atau Papua Nugini. Walaupun tidak secara langsung menjaga pulau dalam artian tugas-tugas TNI, tetapi kita jadi semakin tahu kalau pulau-pulau terluar di Indonesia itu pada kenyataannya jarang diperhatikan pemerintah dan pada akhirnya bisa jatuh ke tangan negara lain. Agar hal buruk itu tidak terjadi, tidak ada salahnya kan kalau pas liburan ganti suasana dan berjalan-jalan ke pulau-pulau terluar di Indonesia ini. Seperti apa keadaan di sana dan apa yang bisa kamu lakukan di pulau tersebut, check these out!

Pulau Sebatik: condong ke Malaysia
Terletak di sebuah pulau di sebelah timur laut Kalimantan, Pulau Sebatik terbagi atas dua bagian, bagian utara merupakan wilayah Sabah, Malaysia dan di bagian selatan merupakan wilayah Indonesia. Pulau Sebatik merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Timur. Untuk sampai ke Pulau yang masyarakat aslinya disebut suku Tidung, bisa ditempuh dengan perahu motor dari Pulau Nunukan. Harga tiketnya disesuaikan dengan cuaca pada hari itu, bila cerah cukup membayar lima belas ribu rupiah, tetapi jika ombak besar dan cuaca kurang bersahabat harganya bisa mencapai lima puluh ribu rupiah per orang.

Sebagai catatan kamu, kalau Pulau Sebatik menjadi saksi pertempuran hebat antara Indonesia dengan Malaysia yang mempersoalkan status Kalimantan selama kurang lebih 46 tahun. Setelah sampai di Pulau Sebatik, kamu bisa menggunakan jalan darat yang tidak nyaman menuju Kota Sei Nyamuk, Ibukota Kecamatan Sebatik. Karena kondisi masyarakatnya yang memprihatinkan, maka dari segi ekonomi masyarakat setempat lebih condong ke Malaysia, dengan adanya Kota Tawau yang jauh lebih menarik karena dihiasi gedung-gedung menjulang tinggi. Tidak heran, bila nelayan atau penduduk lainnya menjual barang dagangannya di Kota Tawau tersebut.

Sehingga, buat kamu yang ingin melihat lebih dekat Pulau seluas kurang lebih sekitar dua ratus sembilan puluh sembilan kilo meter persegi, harus melihat kenyataan bahwa pengaruh Malaysia sangat kuat pada kehidupan penduduk di sana. Bila ingin membeli sesuatu khas Sebatik, kamu harus mempersiapkan mata uang ringgit, Malaysia karena mata uang itulah yang lebih sering dipakai bahkan diakui oleh masyarakat yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan ini. Alasannya adalah karena nilai mata uang ringgit jauh lebih tinggi ketimbang rupiah.

Pulau Miangas: Hampir milik Filipina
Ketika Indonesia dijajah Belanda, Miangas dikuasai sejak tahun 1677, sedangkan Filipina sebagai negara yang berbatasan langsung dengan pulau ini memasukkannya ke wilayah mereka sejak tahun 1897. Di Peta Filipina sendiri, Miangas dikenal dengan nama La Palmas. Namun, karena ada campuran tangan dunia Internasional, sejak 4 April 1928, Miangas menjadi milik sah Belanda atau Hindia Belanda pada saat itu dan kemudian diwariskan kepada Indonesia sebagai negara bekas jajahannya. Jadi jangan terkecoh bila aplikasi google maps memasukkan Pulau Miangas sebgai wilayah Filipina, tetapi sebenarnya masih sah milik Indonesia.

Pulau Miangas sendiri, merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang cantik dan termasuk ke dalam desa Miangas, kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Pulau yang rawan akan masalah perbatasan, terorisme, dan penyeledupan ini masuk ke dalam gugusan Kepulauan Nanusa. Sehingga untuk sampai ke Pulau ini, harus melakukan penerbangan dahulu ke Manado baru naik kapal feri menuju pulau ini.

Kalau kamu lebih familiar dengan Taman Laut Bunaken yang juga berada di Sulawesi Utara, maka kamu bisa mencoba mengunjungi Pulau Miangas yang terdiri dari beberapa pantai, seperti Pantai Lobo dan Pantai Mera yang keduannya terkenal dengan suasana pantainya yang masih virgin dan tenang. Walaupun banyak yang beranggapan mata uang di Pulau ini adalah peso, itu salah besar, masyarakat setempat masih menggunakan rupiah.
 
Pulau Befondi: Putihnya Papua
Di Pulau yang terletak di Samudera Pasifik dan merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Biak Numfor, provinsi Papua ini, kamu bisa menikmati semilir angin pantai yang mengesankan dengan masyarakat yang tidak begitu primitif dibandingkan dengan kabupaten lain di Papua. Sebagai pulau terluar di Indonesia, pulau ini berbatasan dengan sebuah negara bernama Palau, yaitu sebuah negara kepulauan di Samudera Pasifik yang merdeka pada tahun 1994 dari Wilayah Perwalian Kepulauan Pasifik yang diperintah Amerika Serikat.

Pulau Befondi bisa dikatakan sebagai surganya para pemancing. Buat kamu yang cinta laut dengan segala isinya, di sini kamu bisa melakukan aktivitas snorkeling atau diving jika kamu sudah punya lisensi, untuk bisa menikmati keindahan laut di Pulau yang berbahasa asli Wos Byak. Jangan malu untuk bertanya, karena masyarakat sekitarnya terkenal ramah dan mau membantu. Selain spesies ikannya yang melimpah, terdapat memiliki spesies burung asli Befondi yang bernama golden sea birds.

Tiga pulau terluar di Indonesia ini masih sedikit dari banyak pulau terluar lain yang memiliki kharismanya masing-masing. Namun tetap saja, perlu ada penjagaan dari pemerintah dan kita sebagai anak muda untuk mau jalan-jalan atau berlibur ke sana sembari melihat langsung masyarakat yang berlabel WNI tetapi lebih sering mengagung-agungkan negara lain. So, don’t waste your time, just go vacation while protecting!

FYI- This article publish in KB (September 2010)