Monday, January 10, 2011

TELL ME SOME JOKES OR GIVE ME A SIMPLE SURPRISES


Masih tgl 10, I still got 21 days to go...c'mon January, surprises me”

Tweet salah satu teman saya yang untuk saat ini benar-benar mengena sekali. Mungkin bagi dia, itu ada hubungannya dengan pekerjaan, tapi buat saya itu berhubungan dengan cinta. Yah, cinta! Cliché, tacky, and sounds desperate. Yes, I’m desperate and it’s chronic, badly! Untuk perihal satu ini tidak pernah saya angkat ke permukaan karena saya dikelilingi oleh orang-orang yang tidak pernah mau membicarakan hal yang satu ini dan rata-rata mereka single. Single and happy because of it. Maaf jika artikel ini benar-benar kebalik 180 derajat dengan artikel sebelumnya yang mengangkat tema tentang ‘being single being positive’, tapi sejujur-jujurnya yang itu lahir karena profesionalitas dan yang ini lahir karena perasaan terdalam dan buntu mau dipaparkan dimana.

Bye the way, target punya pacar sendiri sebenarnya sudah ada sejak masih SMP. Namun, entah kenapa masalah ini selalu sukses lenyap dalam pikiran saya tergantikan oleh target-target lain yang lebih butuh pikiran lebih keras. Sekarang, saya benar-benar ingin punya satu. Cukup satu saja! Saya capek dengan casual relation hingga terjebak casual sex. Huh? Now, I’m looking like a jerk and so desperate, right? Well, it’s natural. Everyone needs sex, so do I. But, after that, I hate myself (again). Back to a real relationship, I don’t know where I belong now, I feel so clumsy, fragile, and of course lonely. Where’s my right one? My super-charming-one? Oh, God! Please give me a direction, I’m lost!

Mungkin beberapa teman saya juga merasakan hal yang sama, mereka kosong dihatinya, tetapi mampu menutupi dengan raga yang tegar. Mereka punya banyak pekerjaan luar yang seru, sedangkan saya, saya hanya bisa melakukan pekerjaan pasif yang ternyata membutuhkan cukup otak untuk menyelesaikannya. Tetapi dari hati yang paling dalam, saya benar-benar butuh istirahat. A huge break with a great one through night full of love and star. Saya kembali ingat, betapa teman-teman saya selalu bilang, “Semua indah pada waktunya” or “Semua ada waktunya” Tapi, kapan buat saya? Kapan waktu itu benar-benar hadir menyemarakan hidup saya. Jujur, saya hampa. Tapi, saya bingung harus bagaimana.

Sebenarnya, saya tahu sih kekurangan hidup saya apa, yaitu kurang bersyukur. Saya mengakui kok shalat saya jadi bolong-bolong sejak beberapa bulan silam. Memang butuh kekuasaan Tuhan ya. Tapi, kalau sudah berbicara tentang Tuhan, saya jadi bingung lagi. Padalah Tuhan juga sudah berjanji tidak akan memberi masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh hamba-Nya. Saya suka puzzle, saya suka teka-teki, tetapi ini begitu rumit. Seperti saya bilang tadi malam, “Sono al crocevia, sono perso.I don’t know where I must to be. Is it he, she, both, or none of them? Once again, I need a clue. And that be a simple clue.

Tampaknya ini jelas berhubungan dengan pendewasaan, berhubungan dengan bagaimana menjadi seorang lelaki sungguhan yang siap melindungi siapa pun. Tapi, proses menuju ke sana saya tidak bisa sendiri. Bagaimana kalau saya pingsan ditengah jalan, atau mati mungkin? Bagaimana kalau teka-teki itu semestinya diselesaikan berdua? Bagaimana kalau ternyata takdir saya adalah kawin dengan diri sendiri? Well, many questions don’t give me another great decision. It’s sick, badly!
Sulit sekali untuk menjelaskan apa yang saya rasakan, karena itu mungkin saya sering terlihat seperti orang ling-lung. Dasar timbangan, apa-apa mesti dihitung baiknya, buruknya, tapi terkadang saya suka salah, sering sekali malah. Kesalahan itu pula yang sering saya ulang-ulang-ulang-ulang, sehingga saya menggali lubang sendiri untuk bunuh diri. Tapi, kalau bunuh diri kesannya tidak seru. Ibarat sebuah film, itu dikategorikan sebagai film sampah dan siap menerima Razzie Award  2011. Buat apa coba, sudah susah-susah dibuat, menunggu sembilan bulan, terus mati tak berguna saja begitu. Paling-paling serunya hanya jadi bintang 10 menit dalam suatu liputan investigasi. Terkenal sih, tapi karena bunuh diri. Alasannya? Depresi! Hahaha.

Saya pun tidak tahu jawaban atau kejelasan dari apa yang saya tulis ini. Yang saya tahu, saya mesti menunggu karena sebenarnya tidak ada yang instan. Menunggu dengan penuh kesabaran tingkat dewa, menunggu tanpa ada rasa cemas, menunggu dengan santai ditemani suara-suara penyanyi-penyanyi yang saya dengarkan. Tidur dengan gelisah itu benar-benar 2011, 10 hari yang lalu, sekarang tinggal bagaimana menjalani ketertarikan yang sempurna di sisa 21 hari ini. Saya masih punya cukup waktu untuk sampai digaris finish dengan sentuhan yang mengesankan, yaitu punya pacar. Kriterianya simpel, asal dia bermobil fortuner, berdomisili tidak jauh dari tempat saya tinggal, dan terkadang siap jadi babu saya. Kelewatan? Tidak juga! Dia akan mendapatkan yang lebih dari yang dia bayangkan. Saya pegang janji saya!

Oke, selain itu, saya juga akan berdamai dengan hari sabtu dan minggu dan mesti saya isi kedua hari itu dengan senang-senang yang pas. Saya malas membenci, saya hanya ingin tersenyum, berbagi, dan menghiasi yang sudah ada dengan cerita-cerita saya yang kurang menarik. Loncat ke percintaan lagi, nazar saya bila punya pacar sebelum Januari berakhir adalah saya akan keliling bersepeda pada malam hari dari jam 2 hingga jam 5 pagi, seperti yang pernah saya utarakan (di dalam hati). Mudah-mudahan lah bertemu.

Overall, I only need relax, no more bad day, only me and the music. Apakah saya mampu mencapainya? Apakah saya dapat bertahan? Lihat saja tanggal mainnya. Cukup lega bercerita disini, walau tidak punya orang yang bisa dicakap-cakapi, saya tetap santai kok. Oh, iya berdasarkan film Les Chansons D’amour, cinta itu butuh pengorbanan, mau diinjak-injak, bersedia menjadi penguntit ulung yang tanpa malu mengikuti terus si yang dicintai. Kemudian, siap mendapat penolakan dengan sebelumnya telah terjebak casual marriage, lalu kembali berkorban untuk membuktikan kalau dialah yang terbaik. Kuncinya, cinta itu nyaman. Kalau tidak bagaimana bisa bertahan toh?

Terakhir, saya hanya ingin bilang kepada siapa pun, siapa pun yang membaca artikel ini, “whatever you think, think the opposite” –Paul Arden. Terserah akan memperlakukan saya seperti apa, tetapi perlu diingat, saya hanya butuh cinta (titik). Tentunya, cinta yang berujung pada hubungan pacaran ya! Sudah lah, mulai melantur lagi. Yuk, mulai beres-beres. Bersiap-siap menantang yang ditantang! “Merekalah kelas menengah yang tidak disuapi penguasa dan merekalah sendi demokrasi” –Goenawan Muhammad. Ambil ancang-ancang, keluarkan senjata, dan terkamlah setiap waktu. CARPEDIEM!

FYI- This article is a story, true or false? Based on your faith. 

2 comments:

Adisty Bahri said...

Fortuner ya.hmmm.mobil saya karimun.hahahhah
#ga nyambung
belajar nyetir dulu dong mas :D

Mirtoman said...

Haha, iya deh mbaknya, saya belajar nyetir segera. hahaha