Pernah di status facebook, saya menuliskan, “being stalker sometimes fun, in a positive way.” Buat yang pernah mempertanyakan stalking, but positive itu seperti apa ini contohnya. Karena asyik ingin tahu, apa saja film favoritnya, saya segera mencek dan mengetahui film ini. Pertama kali tahu, saya kok agak familiar dengan judulnya. Seperti pernah dibahas entah dimana. Beberapa bulan kemudian, saya baru ada kesempatan mencari film ini dan mengunduhnya. Voila, ternyata ini adalah film asal perancis yang dirilis 17 Mei 2002. Sutradarnya bernama Cedric Klapisch dan ternyata pula telah membuat sequel dari film ini berjudul The Russian Dolls di tahun 2005. Untuk sekarang, saya akan membahas dulu film yang dalam bahasa Inggris berjudul, Pot Luck atau The Spanish Apartement.
Karakter utamanya ada pada seorang pria muda bergelar sarjana ekonomi asal Paris, Perancis bernama Xavier (diperankan oleh Romain Duris) yang bosan dengan kehidupannya yang tidak berkembang. Terjebak dalam rutinitas yang sama, pengangguran, dan masih tinggal bersama ibunya membuat Xavier berencana meninggalkan kehidupannya yang hitam-putih dengan mengikuti program pertukaran pelajar dari Erasmus. Langkah itulah yang dirasanya baik, tetapi di saat yang sama kehidupan percintaannya juga ditantang oleh Martine (Audrey Tautou) yang meragukan cinta tulus Xavier yang memilih pergi meninggalkannya.
Singkatnya, Xavier akhirnya sampai di Barcelona, Spanyol dengan sejuta harapan agar mendapat pengalaman yang memberinya banyak pelajaran baru. Awalnya dia tinggal disebuah keluarga pasangan suami-istri baru asal Perancis yang baru juga sampai dan akan tinggal lama di kota itu. Sampai akhirnya, dia berhasil menemukan tempat tinggal paling langka dan paling berkesan dalam hidupnya kemudian. Sebuah apartemen berukuran besar yang terdiri dari beberapa kamar, dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa asing Eropa lainnya. Ada Wendy (Kelly Reilly) asal Inggris yang takut gelap, Tobias (Barnaby Metschurat) si serius dari Jerman, Alessandro (Federico D’Anna) asal Italia, Lars (Christian Pagh) yang bisa bahasa Perancis dari Swedia, dan tentunya si sensitive Soledad (Cristina Brondo) dari Spanyol. Karena Xavier mendapat teman baru asal Perancis pula bernama Isabelle (Cecile de France) dari kelas ekonominya, maka ada tambahan satu orang lagi di sana. Komunikasi pun terjalin dalam tiga bahasa Perancis, Spanyol, dan Inggris. Melihat adegan mereka berbicara dalam tiga bahasa saja membuat saya merasa iri dengan kehangatan beda warna dalam satu apartemen.
Kekonyolan demi kekonyolan ditampilkan dengan cara yang alami, terutama saat Isabelle yang lesbian mengajari Xavier bercinta dengan wanita, istri dari keluarga Perancis itu. Ditambah kehadiran adik Wendy, bernama William (Kevin Bishop) yang sangat jayus, tetapi baik hati dan sangat sayang dengan kakaknya. Kehidupan di apartemen tersebut, rasa-rasanya mirip dengan kos-kosan di Indonesia yang misalnya saja dihuni oleh orang-orang beda suku yang tetap toleran dan menghormati.
Di awal cerita film ini agak membosankan. Entah karena ciri khas film Perancis seperti itu atau kemauan sutradara untuk membuat konsep monolog yang tanggung, saya kurang paham juga. Namun, pastinya, film ini menyadarkan saya dan memberi banyak pelajaran bahwa kemana pun pergi jati diri yang sesungguhnya dari diri sendiri adalah yang akan menolong kita bila berada dalam situasi sulit. Kadang walau kita berasal dari suku yang sama, memahami satu sama lain tidaklah segampang yang dipikirkan. Setiap orang punya cara pandangnya masing-masing atas suatu permasalahan, tidak berdasarkan suku, ras, atau kewarganegaraan. Film ini memberi gambaran penuh tentang bagaimana kita harus bersikap dengan orang-orang baru, sampai akhirnya kita akan menemukan jati diri kita yang sebenarnya atas pembelajaraan akan perbedaan.
There is a lot thing to sacrifice when we struggled with the future. Keep moving forward is the best way to achieve something. After we’ve already made peace with all stuff in our life, in sincere condition, we can find what we gonna do next. Seperti karakter utama di tokoh ini, yang passionnya akan sesuatu ternyata ada disekitarnya. Hah, Finally!
FYI- This article is only a pleasure
FYI- This article is only a pleasure

No comments:
Post a Comment