Saturday, January 1, 2011

CROSSING OVER: I’M PROUD TO BE INDONESIAN


Salah satu jenis film yang saya sukai adalah yang memiliki unsur SARA di dalamnya. Mungkin hal itulah yang sering terlontar dalam jokes saya kepada beberapa teman. Tapi, sebenarnya tidak ada keinginan untuk jahat kok, hanya jokes bertema ini lebih seru saja. Well, back to film, I know this film in some month in 2009 and I know I have to watch this movie as soon as possible. Namun, karena beberapa hal “tidak penting”, film ini baru berhasil saya unduh dua minggu sebelum tahun baru 2011. 

Crossing Over, terdengar begitu jelas dari judulnya. Settingnya sendiri berlokasi di Los Angeles, disutradarai oleh Wayne Kramer, seorang imigran asal Afrika Selatan. Film ini adalah pembaharuan dari film pendeknya di tahun 1995. Dengan konsep cukup pelik seputar illegal immigrant, human rights, green card, dan tentunya the clash culture, film ini memberi gambaran yang sebenar-benarnya dari strict-nya birokrasi di USA, terutama masalah imigrasi.

Kira-kira ada enam cerita berbeda yang melebur menjadi satu kesatuan yang menarik. Seorang Agent ICE (US Immigration and Customs Enforcement) bernama Max Brogan diperankan oleh Harrison Ford yang menyelamatkan seorang anak lelaki asal Mexico ketika sang ibu dari anak itu harus dideportasi, kemudian ada musisi atheis asal Inggris, Gavin Kossef (Jim Sturgess) yang menyamar menjadi yahudi sebagai guru musik di sekolah yahudi. Selain itu ada pula aktris baru berkewarganegaraan Australia bernama Claire Shepard diperankan oleh Alice Eve, yang merelakan tubuhnya dipakai oleh pejabat imigrasi demi mendapatkan permanent residence. Ada pula kisah calon warga negara USA asal Korea yang salah satu anaknya terlibat pembunuhan serta ketidaksukaan keluarga Iran kepada anak perempuan mereka yang nakal. Namun, dari semua cerita dalam film tersebut, kisah seorang remaja perempuan bernama Taslima Jahangir yang diperankan oleh Summer Bishil (sebelumnya bermain apik di Towelhead) adalah yang paling menyedihkan.

Taslima dan keluarganya yang keturunan Bangladesh mesti berurusan dengan pihak imigrasi karena pada suatu kesempatan di sekolahnya, Taslima menyuarakan aspirasinya mengenai 9/11, Islam, dan Jihad. Sontak hal itu membuat seisi kelas ribut dan mencemooh pendapatnya. Malam harinya, tanpa tendeng aling-aling pihak imigrasi segera mendobrak paksa rumah Taslima dan menganggapnya sebagai mata-mata dari dunia Islam dan salah satu anggota teroris yang siap menyerang negara. Adegan paling memilukan adalah ketika Taslima dan ibunya mesti dideportasi ke negara asal, sehingga harus berpisah bertahun-tahun dengan adik-adik dan ayahnya. Seakan tidak ada rasa kasihani, pihak imigrasi USA hanya mengandalkan alibi sekunder yang masih dipertanyakan kebenarannya untuk memisahkan hubungan keluarga itu.


Adegan berkesan lainnya adalah saat Gavin Kossef yang atheis mesti berpura-pura sebagai seorang yahudi yang taat untuk mendapatkan green card dan agar dapat bekerja sebagai musisi di negara itu. Ketika diharuskan melafalkan doa, Gavin mesti berhadapan dengan seorang rabbi sungguhan untuk menyakinkan pihak imigrasi bahwa dirinya adalah seorang yahudi taat yang bekerja untuk agama itu dan untuk mempermudahnya mendapatkan green card

Secara keseluruhan, film berdurasi 113 menit ini menyuguhkan cerita kompleksitas imigrasi USA yang nyata. Walau tidak begitu booming dari segi penonton, tapi disini kita akan menyaksikan betapa orang-orang USA itu, khususnya pihak-pihak imigrasinya bekerja hanya mementingkan tugas tanpa hati nurani, melupakan jati diri mereka yang sesungguhnya, dan menari-nari di atas penderitaan orang lain di atas nama profesionalitas.

Saya pun jadi kembali berpikir ulang untuk pindah kewarganegaraan, dimana pun itu dan bagaimana pun negara itu dikatakan sebagai negara demokrasi. Karena menurut saya, negara demokrasi sesungguhnya ya Indonesia. Di sini media masih berbicara dan bisa membalikkan keadaan 180 derajat, memiliki kerukunan antar beragama dan suku yang berdampingan, walau terkadang masih saja saling serang dan bunuh karena masalah sepele. Ingat kan sama kejadian pembakaran gereja atau rusuh saling serang di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan antar suku? Pernah saya menonton salah satu program di tv yang menanyakan kepada para host-nya, apa sih kerukunan antar umat beragam? Belum ada yang bisa menjawab secara pasti. Semua masih abu-abu, apalagi masalah sensitif seputar agama, suku, bahkan imigrasi. Jelasnya, saya bangga menjadi warga negara Indonesia. Di negara ini gampang, sogok-menyogok itu lumrah. Bukan saya mengajarkan, tapi coba dibayangkan betapa sering kegiatan itu memudahkan kita dalam menjalankan aktivitas sehari-hari? Birokrasi ribet dan menyusahkan seperti yang sering dikeluhkan orang ternyata tidak ada apa-apanya dibanding di negara demokrasi lain di dunia.

The point is just be proud from where you are. No matter how black you are, what you’re doing to make connection with God, or as simple as how big your size, you’re the best in your own way. Make yourself independent as human being is the truly message.  

FYI- This article is only a pleasure

No comments: