Saturday, January 1, 2011

BEHIND THE SCENE OF CHINESE NEW YEAR


Sejak Mei 2002 yang lalu, Indonesia telah menetapkan Tahun Baru Imlek atau Chinese New Year sebagai hari libur nasional. Oleh karenanya, libur nasional yang satu ini pasti semakin dekat dengan masyarakat Indonesia sebab tidak hanya dikhususkan untuk suatu golongan tertentu, tetapi juga berkesan untuk seluruh warga Indonesia. Untuk itu kita akan dibahas hal-hal seputar Chinese New Year dan apa saja sih hal-hal positif yang bisa kita temui dari tradisi yang satu ini. Go figure it out and pay attention to the detail, guys!

Mythology about Chinese New Year
Biasa juga dikenal dengan sebutan Lunar New Year, perayaannya dimulai di hari pertama bulan pertama dalam penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan diadakannya Lantern Festival atau disebut juga dengan Cap Go Meh yang diadakan pada tanggal kelima belas, pada saat bulan purnama. Malam tahun baru imleknya sendiri dikenal sebagai malam pergantian tahun. Tentunya, dibalik tradisi asal Cina ini menyimpan cerita rakyat yang sangat terkait dengan barang-barang yang akan sering dijumpai kala Imlek. Ceritanya sendiri dikabarkan terjadi sebelum Dinasti Qin, yaitu dinasti pertama yang mempersatukan suku bangsa yang beragam di Tionghoa ke dalam entitas tunggal nasional bernama Cina.

Diceritakan pada zaman dahulu di sebuah desa di Cina, terdapat seekor binatang buas besar, menyerupai singa, namun memiliki sisik yang berwarna keemasan. Orang-orang pada masa itu menyebut hewan tersebut sebagai Nian. Nama Nian yang berarti tahun, diberikan orang-orang desa karena binatang ini akan muncul setiap tahun memasuki tanggal 1 kalender Cina, menuju desa dan menyantap mangsanya, yaitu manusia.

Suatu ketika pada awal tahun berikutnya, sekelompok anak-anak kecil lupa bahwa hari ini adalah saatnya Nian mencari mangsa. Anak-anak itu sedang asyik menyalakan petasan di suatu tempat di desa tersebut. Nian terlihat sempat ketakutan melihat aktivitas tersebut ditambah dia melihat pula seorang anak yang memakai baju merah dan nian hanya berani mendekat pada anak-anak yang memakai selain baju berwarna merah. Ternyata, suara petasan yang keras, membuat Nian lari meninggalkan anak-anak itu, masuk kembali ke hutan, dan dia pun bersembunyi selama setahun, menanti tahun berikutnya untuk memangsa manusia.

Masyarakat desa akhirnya menyadari bahwa Nian takut dengan suara petasan dan warna merah. Maka sejak itu, supaya binatang buas tersebut tidak datang dan menakut-nakuti orang-orang desa lagi, diwajibkanlah mereka selalu mengenakan pakaian serba merah dan memasang petasan di depan rumah-rumahnya, bersembahyang meminta perlindungan serta membagikan angpao untuk membuang sial dan menarik rezeki juga keselamatan. Semua aktivitas itu mereka lakukan setiap tanggal 1 bulan 1 kalender Cina. Sehingga, sejak saat itulah perayaan Imlek diselenggarakan setiap pergantian tahun kalender Cina dengan hal-hal penting lainnya yang sarat akan nilai positif dan sejarahnya.

Yap, cerita rakyat atau mitologi itulah yang kemudian mengilhami perayaan Imlek di Cina dan dikhususkan bagi keturunan Tionghoa lainnya. Namun, seiring berkembangnya waktu perayaan ini justru memberikan sisi hiburan dan budaya yang selalu ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Sehingga, walaupun tidak merayakannya pun bisa mengetahui makna dibalik hal-hal penting dalam perayaan Imlek yang sudah menjadi tradisi turun temurun berabad-abad lalu.

So now, we gonna elaborate each items which show how meaningful it is and what positive value that you can bring into your life. Ready to explore it? Lets start with fireworks!

First Item: Fireworks
Seperti yang diceritakan sebelumnya, bahwa dalam cerita rakyat tersebut, binatang buas takut pada petasan yang dinyalakan anak-anak kecil. Maka, tradisi menyalakan petasan pada tahun baru imlek menjadi sebuah tradisi penting yang tidak boleh dilupakan. Pada zaman Cina kuno, petasan yang diledakan terbuat dari batang bambu yang diisi bubuk mesiu dan diledakan. Fungsinya selain menjauhkan rumah dari binatang buas, juga digunakan untuk mengusir roh jahat.

Pada masa sekarang, penggunaan petasan digunakan untuk memeriahkan suasana imlek. Petasan yang digunakan digantung pasa sebuah tali panjang berisi bubuk mesiu dan digulung kertas berwarna merah. Bentuknya, hampir mirip dengan petasan-petasan yang digunakan pada pernikahan ala Betawi. Tapi, karena adanya penggunaan warna merah, menandakan untuk membawa keuntungan pada rumah yang menyalakannya.

Intinya, menyalakan petasan tidak hanya sekedar digunakan untuk memeriahkan suasana imlek, tetapi juga menandakan waktu yang menyenangkan atas tahun lalu dan menuju tahun baru yang lebih membahagiakan. Jadi, jelas permainan petasan yang biasanya identik dengan kebakaran, rusuh, dan mengganggu, di dalam perayaan Imlek merupakan suatu aspek penting yang tidak terpisahkan dan menunjukkan untuk mengenang hal-hal menyenangkan dan membahagiakan yang telah terjadi dalam hidup sebelumnya, untuk menyongsong hidup yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Second Item: Red Envelopes
Bahasa gaulnya, angpao. Pasti sudah banyak yang menunggu-nunggu akan item yang satu ini saat imlek tiba. Thanks God to tradition, this red envelopes never absence from Chinese New Year each year! Untuk isi dari angpao itu sendiri, disarankan untuk berjumlah ganjil dan bernilai menguntungkan. Nilai-nilai menguntukan biasanya Rp 80.000,- atau Rp 60.000,-. Tapi, tidak disarankan berjumlah Rp 30.000,- atau Rp 50.000,- karena angka-angka ganjil tersebut lebih sesuai dengan hal-hal berbau kematian.

Biasanya, orang yang sudah menikah akan memberikan angpao kepada saudara-saudaranya yang lain yang belum menikah, untuk mendapatkan keberuntungan di masa yang akan datang. Hal itu ditujukan lebih kepada mensyukuri rejeki yang telah didapatkan dengan berbagi kepada banyak orang. Sisi positifnya berarti tidak hanya bagi orang-orang menikah yang telah memberikannya, tetapi juga bagus buat tambahan uang saku kamu lho!

Third Item: Koi Fish
Ikan koi, seperti banyak diketahui orang, merupakan suatu jenis ikan mas yang biasanya dipelihara untuk menghias rumah, berasal dari Cina dan banyak tersebar di Jepang. Karena masih memiliki kekerabatan dengan ikan mas, maka banyak orang menyebut ikan mas koi sebenarnya dengan sebutan misnomer.

Hubungan antara ikan koi dengan imlek, yaitu terletak pada hiasan dinding atau lukisan berupa ikan koi yang biasa dipajang di rumah-rumah orang yang akan merayakan imlek. Alasannya karena ikan ini melambangkan keberuntungan dan kesuksesan hingga cocok dengan suasana imlek. Tidak bisa dipungkiri, karena bentuknya yang indah, ikan koi menjadi simbol keberuntungan bagi siapa saja yang memeliharanya. Jadi, entah itu sugesti atau benar-benar nyata, ikan koi menjadi item pelengkap yang pas pada saat imlek.

Fourth Item: Cuisine
Dalam suatu perayaan, entah Idul Fitri, Idul Adha, atau Natal, termasuk pula Imlek, banyak makanan-makanan istimewa khas perayaan tersebut yang disajikan. Dalam Chinese New Year, ada suatu tradisi makan bersama yang mesti digelar dalam rangka menyambut tahun baru Imlek. Setiap anggota keluarga, baik dekat maupun jauh berkumpul bersama, merayakan Imlek dengan suasana yang terkadang mewah dan masih tradisional. Hidangan utama yang tidak boleh ketinggalan adalah ayam dan ikan yang dimasak menjadi jenis-jenis masakan khas imlek yang lezat.

Di beberapa negara perayaan Imlek, ikan yang disajikan hanya dijadikan sebagai pelengkap, tidak dimakan secara keseluruhan dan sisanya disimpan semalam. Dalam frase Cina kuno, hal itu menandakan “may there be surpluses every year” atau sama bunyinya dengan frase “may there be fish every year.” Maksudnya lebih kepada, ikan dijadikan simbol keberuntungan, biar tetap bisa disajikan setiap tahunnya dan karenanya akan selalu hadir pula keberuntungan di sana. Sisi lainnya, karena ikan banyak mengandung protein dan termasuk jenis masakan yang baik bagi tubuh, maka ikan jelas membawa keberuntungan untuk menyehatkan badan untuk bekerja lebih giat mendapatkan keberuntungan bagi setiap anggota keluarga.

Jenis makanan lainnya yang penting dan menjadi simbol perayaan Imlek adalah kue keranjang, jeruk mandarine, kwaci, dan yee sang. Kue keranjang atau biasa dikenal sebagai Nian Gao merupakan jenis kue yang dipergunakan sebagai sesaji pada sembahyang leluhur. Pada awalnya, kue ini dipercaya sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku agar membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga atas kehidupan seorang manusia supaya selalu memperoleh keberuntungan setiap saatnya. Selain itu, karena bentuknya yang bulat, maka bermakna pula agar keluarga yang merayakan imlek dapat terus bersatu, rukun, dan mempunyai tekad yang selalu kuat dan bulat untuk menghadapi cobaan di tahun yang akan datang.

Jeruk mandarine sendiri, dipercaya sebagai buah pembawa keberuntungan karena bentuknya bulat berwarna oranye segar, sehingga selalu ada setiap perayaan Imlek. Sedangkan yee sang adalah masakan berupa salad ikan segar ditambah irisan sayuran dan dilengkapi dengan saus. Menurut tradisi, ketika diaduk dengan saus, ikan dan sayuran harus diangkat setinggi-tingginya di atas piring. Semakin tinggi yee sang terangkat, maka semakin baik pula peruntungan seseorang di tahun yang baru. Setelah itu, yee sang diaduk bersama-sama oleh orang yang duduk satu meja sambil saling mengucapkan selamat tahun baru Imlek. Tradisi mengaduk yee sang dan mengangkatnya tinggi-tinggi disebut lo hei.

Fifth Item: Red and Clothing
Warna merah merupakan warna khas Imlek yang dahulu dipercaya bisa menakut-nakuti binatang buas, Nian, yang setiap awal tahun selalu muncul memangsa manusia. Maka dari itu, di setiap ornamen pada perayaan Imlek, warna merah adalah warna wajib, termasuk pada baju yang dikenakan. Baju berwarna merah dipercaya dapat mengusir roh jahat dan ketidakberuntungan yang mesti dicegah di setiap merayakan Imlek.

Selain itu, terkadang banyak pula orang yang memakai baju baru dari ujung kepala hingga ujung kaki yang menandakan suatu pembaharuan di tahun yang baru. Pemakaian baju baru ini juga melambangkan seseorang memiliki lebih dari cukup hal-hal yang digunakan pada tahun baru, sehingga bisa merayakan Imlek penuh dengan suka cita.

Sixth Item: Dragon Dance and Lion Dance
Pada perayaan Imlek, yang tidak boleh ketinggalan adalah adanya tari naga dan barongsai yang menjadi hal umum untuk dilakukan. Hal tersebut diyakini bahwa ketukan drum keras dan simbal yang dibunyikan bersama-bersama yang akhirnya memekakan telinga ditambah dengan gerakan lincah dari tarian naga dan barongsai dapat mengusir roh jahat dalam perayaan Imlek tersebut.

Tari naga atau disebut juga Liang Liong di Indonesia merupakan suatu pertunjukkan tarian tradisional dalam kebudayaan Cina yang dimulai oleh dari zaman Dinasti Han oleh orang-orang Tionghoa yang memiliki kepercayaan dan rasa hormat yang besar terhadap naga. Awal mulanya, tarian ini adalah bagian dari kebudayaan pertanian dan masa panen, disamping juga sebagai salah satu metode untuk menyembuhkan dan menghindari penyakit. Hingga sekarang, tarian ini melambangkan keberuntungan dan kemakmuran dalam tahun yang akan datang bagi semua manusia di bumi.

Untuk kesenian barongsai yang mulai populer di zaman Nan Bei tahun 420-589 Masehi merupakan jenis kesenian yang pada zaman dahulu digunakan pasukan dari raja Song Wen Di untuk melawan serangan pasukan gajah raja Fan dari negeri Lin Yi. Maka, seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan gajah dan upaya sukses itu pun melengeda sebagai tarian barongsai.

Seventh Item: Flowers
Di antara seluruh tradisi terkait Imlek, item berikut ini merupakan benda yang paling cantik yang diharuskan ada untuk melengkapi semarak Imlek. Berbagai bunga seperti bunga matahari, pohon buah kumquat (pohon renek kecil), pohon bambu, dan beberapa jenis bunga lainnya syarat akan makna penting khas Imlek. Seperti bunga matahari yang melambangkan adanya tahun baru yang baik melancanarkan hidup di tahun baru tersebut. Juga pohon buah kumquat atau biasa dikenal sebagai pohon renek kecil menandakan kesejahteraan bagi suatu keluarga. Sedangkan pohon bambu menggambarkan perjalanan sepanjang tahun.            

Eight Item: Lantern
Seperti sudah diterangkan sebelumnya bahwa berakhirnya perayaan Imlek ditandai dengan adanya perayaan lain yang disebut Cap Go Meh. Dalam perayaan itu, digunakanlah lampion berwarna merah yang digantung di rumah-rumah yang bermakna keberuntungan.

Itulah hal-hal terkait Imlek yang penuh dengan hal positif. If you are interested to this event, don’t miss February 3rd 2011 and feel the culture of Chinese New Year easily

FYI- This article publish in AY-02 (January 13, 2011)

No comments: