Salah satu karya cipta yang paling mudah menggambarkan sesuatu, baik secara visual maupun audio adalah sebuah film. Di sana, semua bentuk perasaan, ekspresi muka, setting paling mencekam, baju paling trend saat itu, bahkan sound effect dan lagu bisa terungkapkan secara penuh. Film pertama kali muncul di abad ke-19, sedangkan di Hollywood sendiri film berjudul D.W.Griffith’s In Old California di tahun 1910, diperkirakan sebagai film yang pertama kali dibuat di kota yang kini dikenal sebagai kota industri film terpopuler di seluruh dunia. So, if you are interested with movie or want to become the director someday, better you check these decades of films. From past to the future, we give you all info you need. Let’s start from the old one!
Decade 60’s – 70’s: A Glam and Girl Power from Hollywood!
Old school means fun! Yes, it is the same with those films, which still have an impact until now. Di era ini, benar-benar ditunjukkan bahwa Hollywood adalah surganya glamor, penuh dengan hal-hal seru, dan tentunya fashionable. Hal-hal berbau glamor disajikan dalam film bergenre drama-komedi yang sampai saat ini film-film tersebut masih terus diburu untuk ditonton karena tema cerita dan karakter-karakter dalam filmnya dirasa masih mewakili kehidupan manusia masa kini.
Selain itu, di era ini pula, film-film bergenre drama sejarah, horror psikologis, serta sub-genre seperti film perang dan mata-mata, semua seakan masih memuncah di era tersebut. Mungkin, salah satu alasannya karena pada dekade ini, ingatan manusia akan sejarah, perang, dan hal-hal terkait lainnya masih sangat jelas dan kemudian dituangkanlah dalam bentuk film dengan setting yang lebih baik.
Film-film yang mewakili era ini, diantaranya adalah The Pink Panther dibuat pada tahun 1963, The President’s Analyst (1967), dan A Funny Thing Happened on the Way to the Forum (1966). Selain itu, terdapat pula film A Breakfast at Tiffany’s, sebuah film yang menunjukkan betapa tangguhnya seorang perempuan dengan setting yang glamor ala Hollywood yang sampai saat ini, film yang dibintangi oleh Audrey Hepburn itu masih dinikmati oleh banyak orang. Film lainnya yang tak kalah berpengaruh adalah film dengan tema black comedy, penuh dengan satire atas suatu keadaan, yaitu holocaust adalah film berjudul Stanley Kubrick’s Dr. Strangelove di tahun 1964. Jika masih penasaran, film-film itu bisa jadi referensi kamu untuk mempelajari tema-tema film yang memang hits di masa tersebut, karena kebangkitan film di dekade 60-an membuat para sutradara semakin gencar untuk bereksperimen dalam film di dekade berikutnya, 70-an.
Decade 80’s: Full of Disco, Dance, and Desire to Socialize
Pada dekade ini, film-film yang diproduksi di Hollywood merupakan film-film blockbuster yang menunjukkan sisi ceria, wild, dan hura-hura ala anak muda Amerika yang menjadi trend di seluruh dunia. Selain itu, genre seperti sciene-fiction, fantasy, thriller, actions, dan tentunya komedi masih menghiasi biosko-bioskop di masa tersebut.
Untuk penggemar Star Wars, Batman, atau Indiana Jones, film-film tersebut adalah yang paling populer di masanya. Dengan pendapatan rata-rata 250 juta dollar Amerika, film-film tersebut jelas masih banyak diminati dan dijadikan film favorit sepanjang masa. Di samping itu, pada era ini, demam film-film komedi remaja yang segar dan menghibur sangat populer dimana-mana.
Contoh film-film yang merepresentasikan era ini yang penuh disko dan anak muda sekali adalah Modern Girls di tahun 1985, Private Resort juga di tahun 1985, Can’t Buy Me Love dan Dirty Dancing (1987), Hairspray (1988) serta tentunya Dream a Little Dream pada tahun 1989. Selain itu, film-film sequel seperti The Karate Kid yang dibuat pertama kali pada tahun 1984, The Prom Night pada tahun 1980, Star Wars, dan Indiana Jones semakin melengkapi keanekaragaman genre pada era ini. Tak ketinggalan, film pria flamboyan pembasmi kejahatan, James Bond 007 pada dekadenya yang ketiga di tahun 1981, yang pada saat itu peran James Bond diperankan oleh Roger Moore, menyemarakkan trend film bergenre action yang booming hingga saat ini.
Decade 90’s: Do not Underestimate the Teenager!
High school never ends or do not underestimate the power of teenager, masih menjadi motto yang tepat menggambarkan perfilman di dekade 90-an. Film yang diproduksi pada era ini benar-benar sudah maju, terutama dari segi pengambilan gambar, misalnya dalam adegan berdialog antar pemain, pengambilan gambar sudah diambil secara close-up, sudah tidak lagi men-shoot dari salah satu sudut ruangan saja.
Pada dekade ini pula, dikenal sebagai dekade produksi film yang independen, seperti kemunculan rumah produksi Miramax atau New Line yang hingga sangat ini masih eksis menghasilkan film-film berkualitas. Selain itu dibeberapa film kita akan menjumpai teknologi yang dibuat untuk menghasilkan efek yang mengesankan, seperti Jurassic Park (1993) atau Terminator 2: Judgment Day (1991). Selain menjadi kebangkitan film remaja, film-film kartun karya Disney yang mulai diproduksi di tahun 1989 lewat film The Little Mermaid juga semakin digandrungi oleh banyak orang. Film-film kartun seperti Aladdin (1992) dan Tarzan (1999) juga ikut masuk sebagai film-film blockbuster di era ini.
Kebangkitan film-film yang dikhususkan untuk remaja ini, tersebar diberbagai genre film. Di genre drama, film Romeo & Juliet (1996) dan Titanic (1997) menjadi trend film kisah cinta muda-mudi yang penuh pengorbanan dan terpisahkan oleh keadaan yang tidak diinginkan keduanya, berupa perseteruan antar keluarga atau karena adanya perbedaan status ekonomi. Selain itu, film remaja lain yang tak kalah bagus adalah 10 Things I Hate About You (1999), She’s All That (1999), dan tak kelupaan film yang dibintangi oleh Drew Barrymore yang berperan sebagai Josie Geller seorang penulis pada sebuah koran lokal yang harus menyamar menjadi siswa SMA demi mendapat tulisan yang nyata atas tingkah laku dan kisah percintaan remaja di masa itu. Film berjudul Never Been Kissed bergenre komedi tersebut, jelas masih terngiang hingga kini dan menjadi salah satu film remaja yang paling diminati.
Di dekade ini pula kita mengenal film-film keluarga seperti Home Alone dengan karakter anak kecilnya bernama Kevin McCallister diperankan oleh Macaulay Culkin. Film dengan empat kali sequel ini merupakan film keluarga yang selalu dinanti-nantikan untuk ditonton saat natal tiba. Dekade ini ditutup dengan beberapa film berkualitas lainnya, seperti film action The Matrix, film drama Runaway Bride, dan film horror The Sixth Sense.
Decade 2000’s: Thank God to Technology!
Efek yang dipakai semakin canggih, ide-ide yang tampilkan juga menawan, hingga puncaknya salah satu film animasi berjudul Avatar di tahun 2009 masuk menjadi salah satu nominasi film terbaik pada perhelatan Oscar. Blockbuster pada era ini pun dikuasai oleh film-film animasi dengan kecanggihan teknologi atas efek-efek yang ditampilkan. Film Harry Potter and the Philosopher’s Stone di tahun 2001, The Dark Knight di tahun 2008, serta Transformers di tahun 2007 merupakan contoh film-film dengan efek canggih yang pas dan enak dipandang mata.
Selain itu, hadir pula film-film berbahasa asing yang sebelumnya lebih dikuasai Hollywood, ikut pula digemari oleh banyak orang di dunia. Salah satu yang paling sukses adalah film action yang disutradarai oleh Ang Lee, yaitu Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000). Merebut empat penghargaan Academy Awards pada perhelatan Oscar yang ke-73, film tersebut bersaing cukup ketat dengan Gladiator karya Ridley Scott. Film bertema becana alam juga ikut meramaikan perfilman di dekade ini. Tujuannya jelas untuk semakin menyadarkan manusia agar semakin baik menjaga alamnya karena global warming dan efek rumah kaca yang siap menyerang manusia di bumi kapan pun itu. Film yang dimaksud adalah The Day After Tomorrow (2004) dan film yang menggambarkan tentang kiamat 2012 (2009).
Kecanggihan teknologi dalam film juga berpengaruh pada genre lainnya, misalnya kartun dan yang bertema superhero. Shrek 2 (2004), Kung fu Panda (2008), dan Up (2009) merupakan beberapa judul film yang setidaknya mewakili jenis film kartun yang cocok ditonton seluruh masyarakat. Film-film pendek atau indie film juga semakin digemari karena biasanya film-film tersebut menyajikan tema film yang agak berbeda dari kebanyakan tema yang ada di bioskop-bioskop. Tentunya, di dekade ini pula, Indonesia semakin melebarkan sayapnya di dunia perfilman. Di mulai dari Petualangan Sherina, kemudian Ada Apa Dengan Cinta, hingga yang terbaru Kabayan Jadi Milyuner menjadi kebangkitan perfilman nasional. So, we can say 2000’s is decade for all industry film from around the world to stand up and proud of their films. Also, it is time to create another quality film to serve for all movie-freak!
FYI- This article publish in AY-02 (January 13, 2011)
No comments:
Post a Comment