Saturday, January 1, 2011

BORN TO BE MOVIE MAKER


Masa muda, pas SMP atau SMA adalah waktu-waktu labil yang sepertinya banyak dihabiskan sebagian anak muda untuk berkhayal. Kalau diberikan wajah rupawan, tinggi semampai, wajarlah dia berkhayal jadi model kelas dunia. Atau, punya otak cerdas, jadi juara olimpiade fisika tingkat nasional bahkan internasional, kemungkinan mempunyai khayalan ingin menjadi seorang ilmuwan masa depan. Well, bagaimana buat kamu yang merasa tidak cakep-cakep amat atau pinter-pinter banget, pasti kebingungan menentukan profesi yang tepat untuk karier kamu ke depannya. Nih, coba deh simak beberapa sutradara handal yang jelas-jelas sudah mendedikasikan hidupnya buat film sejak usia masih muda. Kebanyakan dari mereka bahkan sempet bingung mau jadi apa di masa depan. Dan, sekarang mereka ini jelas-jelas jadi sutradara paling ditunggu filmnya. Penasaran siapa saja mereka, latar belakang kehidupan mereka, dan karya serta penghargaan apa saja yang sudah mereka dapatkan. Yuk, baca yang berikut ini!

Ang Lee: Love Challenge
Sutradara yang lahir 56 tahun silam ini, menghabiskan masa kecilnya di Taiwan. Lahir dari keluarga yang cukup keras dengan kultur China yang mengalir dalam, Ang Lee tumbuh menjadi anak yang diharuskan untuk belajar mengenai chinese culture and art, khususnya kaligrafi china. Sehingga dapat dipastikan darah seni sudah berada dalam diri pria yang telah menikah dan telah dikarunia dua orang anak ini. Sampai akhirnya, setelah lulus SMA, Ang Lee diharuskan untuk masuk ke universitas dengan terlebih dahulu mengikuti tes masuk. Dia gagal dua kali dan membuat kecewa orang tuanya, terutama sang ayah. Hingga pada tahun ketiga kesempatannya berkuliah, Lee memilih masuk ke National Taiwan University of Arts dan lulus di tahun 1975.

Lee remaja yang beranjak dewasa semakin mantap untuk melanjutkan pendidikannya tentang drama dan seni setelah terinsipirasi oleh film karya Ingmar Bergman berjudul The Virgin Spring (1960). Padahal dipihak lain, sang ayah masih menginginkan dirinya menjadi seorang professor, tetapi sulung dari empat bersaudara ini tetap bersikeras dan akhirnya meninggalkan kota kelahirannya Pingtung, Taiwan pada tahun 1978 ke Amerika. Di sana dia masuk ke University of Illinois pada bidang theater di tahun 1980 kemudian dilanjutkan ke Tish School of the Arts of New York dan mendapatkan gelar MFA (Master of Fine Arts). Selama belajar di sana, Lee menghasilkan film Shades of the Lake (1982) yang memenangkan Best Drama Award di Taiwan dan atas tesis akhirnya dia membuat film Fine Line (1984) serta berhasil menang sebagai sutradara terbaik di ajang NYU’s Wasserman Award.

Kini Ang Lee menjadi salah satu sutradara terbaik di dunia dengan karya-karya atas film yang spektakuler. Sebenarnya, sempat ketika telah menikah dengan istrinya, Jane Lin di tahun 1983, dia menganggur enam tahun tanpa satu pun karya. Hingga di tahun 1990, atas dua skenarionya Pushing Hands dan Wedding Banquet, Lee berhasil memenangkan kompetisi film di Taiwan dan disponsori oleh Pemerintah Taiwan untuk membuat film komersialnya sendiri. Alhasil, Ang Lee kini berjaya dan atas perjuangannya dia mengatakan “I think making movies is a great way to release all my expression. I think it is important to be honest with that, and have fun with it”.

Riri Riza: Kesempatan itu ada Dimana-mana
Dengan rambut keriting dan kacamata mukanya adalah ciri identik dari pria asal Makassar kelahiran 2 Oktober 1970 ini. Riri Riza zaman SMA lebih tertarik bermain band dan musik kemudian memutuskan untuk masuk ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Namun selang beberapa waktu, “Begitu tahu di sana ada jurusan film, saya malah tertarik untuk memasukinnya,” ujar pria bernama lengkap Mohammad Rivai Riza. Dunia film sebenarnya tak asing bagi Riri, sejak kecil dia sudah akrab dengan dunia itu. Ayahnya, seorang pejabat di Departemen Penerangan di era Orde Baru, sering mengajaknya ke pelosok-pelosok daerah untuk memutar film pembangunan.

Atas pilihannya itu, Riri yang semakin tekun menimba ilmu di jurusan perfilman kemudian menjadi salah satu lulusan terbaik IKJ. Film pertamanya, setelah lulus dari IKJ berjudul Sonata Kampung Bata, memenangkan juara ketiga pada tahun 1994 pada suatu penghargaan di Festival Film di Jerman. Walhasil, dia pun harus ke Jermannya langsung dan dirinya pun semakin dikenal. Kesempatan itu selalu datang silih berganti hingga akhirnya dia banyak menyutradarai film-film box office yang digemari banyak orang di Indonesia. Proyeknya yang terakhir, bekerjasama dengan sahabat baiknya Mira Lesmana, dia membuat konsep drama musikal panggung untuk karyanya yang sempat difilmkan berjudul Laskar Pelangi. Pementasan drama musikal tersebut semakin mengukuhkan Riri Riza sebagai salah satu sutradara terbaik di Indonesia yang inspiratif bagi anak muda dimana pun berada.

Steven Spielberg: “I dream for a Living
Semua orang tahu siapa dia, karya-karyanya yang luar biasa membuatnya berhasil memboyong dua kali piala Oscar sebagai Best Director dalam film Schindler’s List (1993) dan Saving Private Ryan (1998). Tumbuh dalam keluarga yang berpendidikan, Spielberg di usianya yang remaja menantang dirinya membuat sebuah film bertema adventure dengan teman kecilnya. Di tahun 1958, di usia 12 tahun, Spielberg yang telah menikah dua kali ini menjadi seorang pencinta fotografi dan kemudian membuat sebuah film pendek yang dia beri judul The Last Gunfight. Setahun setelahnya, filmnya yang berdurasi 40 menit berjudul Escape to Nowhere, film yang bertema perang dan bersetting di Afrika Barat berhasil memenangkan sebuah ajang film lokal. Pada usia 16 tahun pada 1963, dia menulis dan menyutradarai sendiri film independen pertamanya bergenre science-fiction adventure berdurasi 140 menit berjudul Firelight. Film tersebut dibuatnya dengan budget US $500 dan ditayangkan di bioskop lokal dengan keuntungan 1 dollar per orang yang menonton.

Kegemarannya akan film semakin dia tunjukkan hingga ke bangku SMA dan dilanjutkan dengan masuk ke University of Southern California dengan mengambil jurusan Theater, Film, dan Televisi. Walaupun sempat ada masalah keluarga, berupa perceraian orang tuanya sekitar tahun 1965, imajinasi Spielberg seakan tidak pernah luntur. Semua semakin menjadi-jadi dan kebanyakannya dia ungkapkan dalam sebuah film. Makanya disebuah kesempatan dia mengatakan “I'd rather direct than produce. Any day. And twice on Sunday,” ujar pria yang tidak suka kopi sedari sekecil.

Francis Ford Coppola: Moving Forward
Sewaktu kecil, sutradara berusia 71 tahun ini menderita polio dan tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk menghabiskan masa kecilnya seperti anak-anak kebanyakan. Lahir dari sebuah keluarga dengan kultur Italia yang kental, Coppola kecil hanya dapat bermain dengan puppet, yaitu sejenis boneka bertali yang bisa dimainkan seperti wayang. Dengan daya imajinasinya yang sudah terasah sedari kecil dengan bermain puppet tersebut, Coppola  menjadi seorang pemuda yang kian mencintai film. Setelah menonton sebuah film berjudul A Streetcar Named Desire, keinginannya membuat film menghasilkan sebuah home movies dengan judul seperti The Rich Millionaire dan The Lost Wallet. Agaknya, keingintahuannya akan film sempat terhenti karena dia lebih menyukai teknologi dan ilmu alam. Namun, setelah lulus SMA dia masuk ke Hofstra University di tahun 1955 dengan jurusan theater arts. Di sanalah, imajinasinya dan hasratnya akan film kembali tumbuh serta berkembang dengan menghasilkan beberapa film saat berkuliah.

Sampai puncaknya, dia terpilih menjadi presiden drama grup di kampusnya dan menciptakan beberapa pertunjukkan yang mengesankan setiap minggunya saat itu. Coppola akhirnya mendapatkan penghargaan atas karyanya yang pernah ditunjukkan di kampus. Seorang dosen bernama Dorothy Arzner lah yang mendukungnya untuk terus maju dalam dunia film. Hingga dia lulus dari kampus pada tahun 1959 dan memulai kariernya secara professional sebagai sutradara. Salah satu karya terbaiknya adalah film berjudul The God Father di tahun 1972 dan 1974 yang membuatnya mendapatkan Best Director di ajang Oscar.

Rudi Soedjarwo: A Breakthrough Director
Lahir di Bogor, 39 tahun lalu adalah dia Rudi Soedjarwo seorang sutradara Indonesia yang karya terbaiknya bisa disaksikan dalam film berjudul Ada Apa Dengan Cinta di tahun 2002. Sutradara ini termasuk salah satu sutradara yang menggebrak perfilman Indonesia yang saat itu tengah lesu. Semangat anak muda yang dia kobarkan banyak menginspirasi orang-orang untuk menghasilkan karya film juga dengan cara mereka masing-masing.

Walaupun sempat masuk jurusan manajemen di tahun 1994 di San Diego State University, Rudi dengan ciri khas kepala plontos dan kacamata ini melanjutkan pendidikannya di Academmy of Arts College San Francisco di tahun 1996. Langkah tersebut bukan tanpa alasan, tetapi karena jiwa seni dan keinginannya untuk membangun perfilman Indonesia membuatnya mengambil jurusan tersebut. Karya pertamanya Bintang Jatuh di tahun 2000 merupakan karya yang menumbuhkan bibit-bibit semangat membuat film di Indonesia. Sampai saat ini, Rudi Soedjarwo adalah sutradara dengan banyak karya jenius yang selalu ditunggu-tunggu kehadiran filmnya. 

FYI- This article is unknown publish  

No comments: